Transgender (harafian bahasa Melayu "antara jantina"), ialah istilah yang digunakan untuk merujuk individu yang mungkin bertindak, berfikir, mempunyai perasaan atau ketrampilan yang berbeza daripada jantina lahir atau biologi mereka. Transgender bukan orientasi seks kerana seseorang transgender mungkin seorang yang heteroseksual, homoseksual, biseksual, aseksual atau sebagainya.

Peristilahan

Sejarah

Pada dahulunya istilah transseksual yang pertama mengungkapkan situasi gender diperkenalkan oleh Magnus Hirschfeld pada tahun 1923 melalui bentuk bahasa Jerman transsexualismus, pengungkapan tersebut diInggeriskan David Oliver Cauldwell menjadi transsexual pada tahun 1949. Ia kemudiannya dipopulerkan oleh Harry Benjamin pada tahun 1966.[1]

Psikiater John F. Oliven dari Universiti Columbia menciptakan istilah transgender dalam buku berjudul Sexual Hygiene and Pathology tahun 1965 . Beliau menulis bahawa istilah sebelumnya yang telah selama itu digunakan iaitu transseksualisme adalah salah dan menyebut bahawa "... transgenderisme adalah istilah yang dimaksud kerana keseksualan bukanlah sebuah faktor utama dalam transvestisme primer."[2] Istilah transgender kemudian banyak digunakan dan didefinisikan secara beragam oleh orang-orang transgender, transseksual, dan transvestis termasuk di antaranya Virginia Prince[3] dalam edisi Disember 1969 dari majalah Transvestia didirikannya.[4] Pada pertengahan dekade 1970-an, baik trans-gender (dengan tanda hubung [-]) dan orang trans digunakan sebagai kata umum.[note 1] Transgenders (akhiran -s pembentuk kata benda jamak dalam bahasa Inggris) juga dahulu digunakan untuk menyebut seseorang yang ingin hidup lintas-gender tanpa operasi penentuan ulang seks.[5]

Konsep dari sebuah masyarakat transgender berkembang pada tahun 1984 dengan digunakannya kata transgender sebagai kata umum (hipernim).[6] Pada tahun 1985, Richard Elkins mendirikan Trans-Gender Archive (Arsip Trans-Gender) di Universiti Ulster.[4] International Conference on Transgender Law and Employment Policy (Konferensi Internasional tentang Kebijakan Hukum dan Ketenagakerjaan Transgender) pada tahun 1992 mendefinisikan kata transgender sebagai sebuah kata umum yang mencakup "...transseksual, transgenderis, cross dressers..." serta orang yang bertransisi.[7]

Istilah kini

Pengenalan "transgender" ini merangkumi dua jenis:

  • translaki - seseorang yang berubah gender perempuan yang asal kepada lelaki (Bahasa Inggeris: female-to-male, FtM atau F2M)
  • transpuan - seseorang yang berubah gender lelaki asal kepada perempuan (bahasa Inggeris: male-to-female, MtF atau M2F).

Kata transgender itu sendiri digunakan sebagai sebuah kata sifat. (contoh: Max orang [yang] transgender, bukan Max adalah transgender atau Max adalah seorang transgender.[8][9][10] Orang-orang yang tidak terangkum dalam mana-mana situasi perselisihan ini—yakni berpengenalan sama dengan seks dan gender yang ditunjuk saat lahir—disebut sebagai cisgender.[11]

Perbedaan transgender dengan transseksual

Istilah transseksual pertama kali diperkenalkan oleh Magnus Hirschfeld pada tahun 1923 dalam bahasa Jerman transsexualismus. David Oliver Cauldwell pada tahun 1949 menterjemahkannya ke dalam bahasa Inggris menjadi transsexual yang kemudian dipopulerkan oleh Harry Benjamin pada tahun 1966, waktu yang sama saat istilah transgender juga mulai banyak digunakan.[1] Istilah transseksual pada tahun 1990-an kemudian digunakan untuk menyebut sebagaian dari orang transgender[1][12][13] yang berkeinginan untuk melakukan trasnsisi secara permanen menuju gender yang mereka identifikasi dan untuk itu mencari bantuan perubatan (seperti operasi penentuan ulang seks).

Perbezaan antara istilah transgender dan transseksual pada umumnya berdasar pada perbedaan antara gender (psikologis, sosial) dan seks (fizikal).[note 2][14] Dengan demikian, transseksual dapat dimengerti lebih mengarah kepada segi fizikal dari seks seseorang sementara transgender lebih terfokus kepada kondisi gender internal dan juga aspek sosial yang dapat berkaitan dengan gender tersebut.[15] Banyak dari orang transgender lebih memilih penggunaan kata transgender dan menolak penggunaan kata transseksual.[16][17] Sebagai contoh, Christine Jorgensen pada tahun 1979 menolak istilah transsexual serta mengidentifikasi dirinya—seperti ditulis dalam surat kabar—sebagai seorang trans-gender dengan berkata, "... gender tidak ada hubungannya dengan siapa kita di atas ranjang, melainkan terhadap pengenalan."[18][19] Pernyataan tersebut mengacu kepada anggapan umum bahawa transseksual memiliki kaitan dengan keseksualan bukan dengan pengenalan gender.[20][note 3] Beberapa orang yang mengidentifikasi dirinya sebagai orang transseksual sebaliknya juga tidak menerima kata transgender digunakan untuk mencakup mereka.[21][22][23][24] Definisi kedua istilah bervariasi dari waktu ke waktu di sepanjang sejarahnya.

Antropolog David Valentin di dalam bukunya tahun 2007 berjudul Transgender, an Ethnography of a Category menyebutkan bahawa pemakaian kata transgender dicetuskan oleh aktivis-aktivis untuk mencakup orang-orang yang justru bisa saja tidak ingin diidentifikasi dengan kata tersebut. Ia juga menyebutkan bahawa orang-orang yang merasa tidak mengidentifikasi dirinya dengan kata transgender sebaiknya jangan dicakupkan di dalam spektrum transgender tersebut.[21] Leslie Feinberg juga menyampaikan hal yang serupa bahawa beberapa orang tidak menggunakan kata transgender untuk mendeskripsikan dirinya namun kata tersebut merupakan sebuah istilah yang digunakan oleh orang lain untuk memahami orang-orang transgender.[22] Akan tetapi, pernyataan-pernyataan tersebut menuai kritik dari Transgender Health Program (THP, Program Kesihatan Transgender) dari lembaga Fenway Health di Boston. Mereka mengatakan bahawa tidak ada definisi tunggal dari kata transgender sedangkan untuk istilah-istilah yang telah ada sebelumnya, kini dapat dianggap tidak sopan. THP menyarankan pakar perubatan menanyakan kepada klien mereka mengenai istilah apa yang mereka lebih kehendaki serta untuk menghindari kata transseksual kecuali jika mereka yakin bahawa klien selesa dengan kata tersebut.[20]

Kelaziman sedunia

Asia Pasifik

Istilah kathoey di Thailand dan Laos[25] digunakan untuk menyebut orang transgender lelaki ke perempuan[26] dan pria gay yang feminin.[27] Kebudayaan Asia Selatan memiliki gender ketiga yang di dalam bahasa Hindi di sebut sebagai hijra. Kepercayaan tradisional Bugis di Sulawesi mengenal lima gender iaitu Oroane (lelaki), Makunrai (perempuan), Calalai (perempuan yang berpenampilan seperti lelaki), Calabai (lelaki yang berpenampilan seperti layaknya perempuan) dan Bissu iaitu gabungan dari semua empat gender tersebut.[28] Beberapa tradisi Polinesia memiliki mahu iaitu orang-orang dengan gender ketiga.[29][30] Kebudayaan Samoa mengenal orang-orang dengan gender ketiga sebagai fa'afafine.[31]

Eropah dan Timur Tengah

Orang Gallae di masa Romawi Kuno adalah para pengikut Dewi Cybele dalam kepercayaan orang Frigia yang mengkastrasi diri mereka[32] dan memenuhi pengertian orang transgender yang ada kini.[33][34] Madinah pada Abad Pertengahan dipercayai mempunyai istilah mukhannatsun[35] yang adakala ditafsirkan sesetengah pihak sama ada sebagai lelaki homoseksual atau wanita transgender.[36] Orang burrnesha di utara Albania dikenal sebagai wanita yang mengambil sumpah keperawanan untuk hidup sebagai pria.[37] Femminielli adalah lelaki homoseksual dengan ekspresi gender feminin di dalam budaya Neapolitan.[38]

Kodeks Hammurabi menyebutkan orang-orang sal-zikrum di antara kasta pendeta di masa Kekaisaran Akkadia. Di beberapa pasal, mereka diperlakukan sebagai wanita sementara di beberapa pasal lain mereka diperlakukan sebagai pria. Tidak dapat diketahui secara pasti apakah para sal-zikrum merupakan pendeta wanita yang juga mengambil peran pria dalam kaitan perannya sebagai pendeta, atau pendeta pria yang berpakaian wanita dan memiliki peran wanita. Kata sal-zikrum itu sendiri merupakan gabungan dari imbuhan bahasa Sumeria sal (perempuan) dan kata bahasa Akkadia zikrum (lelaki).[39]

Amerika

Banyak kebudayaan Pribumi Amerika yang mengenal lebih dari dua gender.[40] Beberapa contoh di antaranya adalah Ła'mana di Suku Zuñi,[41] winkte di kebudayaan Lakota,[42] serta alyhaa dan hwamee di kebudayaan orang Mohave.[43] Secara umum, mereka disebut berdache[44] atau Two-Spirit (Dua Roh).[45] Kebudayaan Zapotek memiliki gender ketiga yang disebut muxe.[46]

Aspek kesihatan

Kesihatan jiwa

Kondisi transgender bukan merupakan suatu penyakit ataupun gangguan jiwa.[47][48] Kebanyakan masalah yang dialami oleh orang transgender ada pada diskriminasi yang dapat kemudian menimbulkan stres, tekanan, dan ansietas.[48] Mayoritas ahli kesihatan jiwa merekomendasikan terapi terhadap konflik internal mengenai pengenalan gender atau ketidaknyamanan terkait peran gender, terutama jika seseorang memiliki keinginan untuk melakukan transisi. Orang yang mengalami ketidaksesuaian antara gendernya dengan ekspektasi orang lain atau orang yang pengenalan gendernya bertentangan dengan tubuhnya dapat merasa lebih baik dengan berbicara mendalam soal perasaannya.[49] Istilah transseksualisme, transvestisme dengan peran ganda, gangguan pengenalan gender pada remaja atau orang dewasa, dan gangguan pengenalan gender yang tidak dispesifikasi merupakan entri yang tertera di dalam International Statistical Classification of Diseases (ICD) dari WHO dan American Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) masing-masing pada kode F64.0, F64.1, 302.85, dan 302.6.[50] Sementara itu, DSM edisi ke-5 memiliki entri disforia gender sembari menegaskan gagasan bahawa kondisi transgender bukanlah sebuah penyakit kejiwaan.[51] Prancis pada bulan Februari 2010 menjadi negara pertama yang menghapuskan pengenalan transgender dari daftar penyakit kejiwaan.[52][53]

Individu transgender memenuhi diagnosis gangguan pengenalan gender (gender identity disorder, GID) hanya jika kondisinya tersebut menyebabkan rasa kecemasan yang kuat atau membuatnya kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari-hari.[54] Rasa kecemasan tersebut disebut sebagai disforia gender yang bisa berwujud tekanan ataupun ketidakmampuan dalam berkegiatan, bekerja, dan membangun hubungan sosial yang sihat dengan orang lain. Bentuk diagnosis ini sering kali disalahtafsirkan—bahawa orang transgender itu orang yang menderita gangguan pengenalan gender. Sebetulnya, orang transgender yang nyaman dengan gender mereka tanpa disertai dengan rasa tertekan atau kesulitan dalam berkegiatan tidak memenuhi diagnosis GID. Terlebih lagi, GID belum tentu bersifat permanen dan sering dapat diselesaikan dengan terapi atau transisi. Perasaan tertekan oleh perilaku-perilaku negatif orang lain atau pemerintah bukan merupakan gejala GID. GID bukanlah persoalan mengenai masalah perbezaan moral. Kalangan ilmu psikologi menekankan bahawa orang dengan gangguan kejiwaan atau emosional dalam bentuk apapun tidak pantas menerima stigma. Penyelesaian dari GID mencakup apapun yang dapat mengakhiri rasa ketidaknyamanan dan mengembalikan fungsi normal dalam berkegiatan. Solusi tersebut umumnya (namun tidak selalu) adalah menjalani transisi gender.[49]

Pelatihan pakar perubatan yang ada dinilai kurang dalam menyediakan informasi yang dibutuhkan agar individu transgender dapat dilayan dengan baik. Hal tersebut menyebabkan para pakar perubatan tidak memiliki kesiapan yang cukup dalam melayani klien transgender.[55] Banyak dari penyedia khidmat kesihatan jiwa hanya tahu sedikit mengenai permasalahan transgender. Klien yang sedang mencari bantuan perubatan justru yang kemudian memberikan pengetahuan kepada pakar perubatan dan malah tidak menerima perkhidmatan.[49]

Kurangnya pelatihan perubatan terhadap permasalahan transgender mulai banyak diketahui. Meskipun begitu, penelitian mengenai masalah-masalah spesifik kesihatan jiwa yang dihadapi oleh individu transgender masih berfokus terhadap pengalaman dari pakar perubatan dan bukan dari sisi pengalaman individu trans itu sendiri.[56] Tidak semua orang transgender mencari bantuan terapi mengingat kondisi kesihatan jiwa tiap orang yang berbeza-beza. Sebelum versi ketujuh dari Standards of Care (SOC, standar perkhidmatan perubatan bagi individu transgender keluaran WPATH), seseorang harus didiagnosis dengan gangguan pengenalan gender terlebih dahulu untuk berlanjut ke fase penanganan hormon atau operasi. Versi terbaru kini mengurangi fokus terhadap diagnosis dan lebih menekankan kepada pentingnya keterbukaan perubatan agar dapat memenuhi kebutuhan perkhidmatan yang berbeza-beza bagi orang transgender, transseksual, dan orang dengan variasi gender lainnya.[47]

Tujuan dari seorang individu ketika mencari bantuan perubatan dapat bervariasi. Hal tersebut sederhananya disebabkan kerana orang transgender yang meminta perkhidmatan perubatan belum tentu berarti bahawa mereka memiliki masalah dengan pengenalan gender mereka. Tekanan emosional dari keberadaan stigma dan transfobia mendorong banyak orang transgender untuk mencari perkhidmatan perubatan untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Benson (2013) menjelaskan bahawa seorang wanita trans berkata, "Individu transgender datang berjumpa pakar terapi namun masalah mereka yang paling besar tidak ada hubungannya dengan semata-mata kerana mereka transgender, tetapi kerana mereka harus sembunyi, mereka harus membuat alasan, dan mereka sudah selama ini merasa salah dan malu, yang sangat disayangkan kerana biasanya itu sudah mereka alami selama bertahun-tahun!"[56] Identifikasi transgender dari seorang individu masih dapat menimbulkan kesulitan yang terkait dengan keberadaan stigma. Banyak orang kemudian mencari penanganan kesihatan jiwa untuk depresi dan ansietas. Beberapa orang transgender menekankan pentingnya pakar perubatan mengakui pengenalan gender mereka agar dapat berkonsultasi dengan baik.[56]

Masih terdapat masalah mengenai kesalahpahaman tentang hal yang menyangkut kondisi transgender yang dapat memperburuk kondisi kesihatan mental individu transgender. Benson (2013) juga mencatat mengenai seorang mahasiswa trans di jenjang magister psikologi yang berkata bahawa, "Kebanyakan orang mungkin tidak merasa asing dengan kata transgender, tetapi ya hanya sampai di situ saja. Saya rasa saya tidak pernah menerima pendidikan formal apapun selama di perkuliahan... saya fikir tidak semua [psikolog] pun tahu. Kebanyakan pakar terapi—tahap magister, doktor—mereka hanya pernah mengambil... satu kelas mengenai permasalahan GLBT. Satu kelas dari bermacam-macamnya pelatihan. Satu kelas. Dan itu paling-paling kebanyakan soal gaya hidup gay."[56] Banyak dari kebijakan perusahaan asuransi tidak mencakup perkhidmatan perubatan yang terkait dengan transisi gender sementara banyak orang tidak atau hanya memiliki sedikit cakupan asuransi. Hal tersebut menjadi perhatian terlebih dengan kurangnya pelatihan yang mencukupi bagi kebanyakan pakar terapi dalam melayani klien transgender, yang kemudian dapat meningkatkan biaya perkhidmatan bagi klien dan menyulitkannya dalam menerima bantuan.[56] Kebanyakan pakar perubatan yang melayani klien transgender hanya menerima pelatihan biasa mengenai pengenalan gender meskipun kini telah ada pelatihan awal mengenai bagaimana berinteraksi dengan orang transgender bagi pakar perubatan meningkatkan mutu perkhidmatan.[57]

Kesihatan fizikal

Prosedur perubatan termasuk operasi tersedia bagi individu transgdender dan transseksual (kebanyakan individu transgender di bab Kategori lain di atas umumnya tidak mencari bantuan perubatan untuk sub-bab ini). Terapi penyulihan hormon untuk pria trans akan memicu pertumbuhan janggut serta mempengaruhi kulit, pertumbuhan rambut, suara, dan distribui lemak pada tubuh. Terapi penyulihan hormon untuk wanita trans mempengaruhi distribusi lemak tubuh dan payudara. Laser atau elektrolisis digunakan untuk menghilangkan rambut/bulu berlebih untuk wantia trans. Prosedur operasi yang ada untuk wanita trans meliputi feminisasi suara, kulit, wajah, jakun, payudara, pinggang, bokong, serta organ genitalia. Prosedur operasi untuk pria trans meliputi maskulinisasi dada dan organ genitalia, pengangkatan uterus, ovarium, dan oviduk. Istilah terapi penentuan ulang seks (sex reassignment therapy, SRT) digunakan sebagai istilah umum untuk prosedur-prosedur fizikal dalam transisi. Penggunaan istilah ganti kelamin menuai kritik kerana dinilai menitikberatkan masalah pada sisi operasi. Penggunaan kata transisi lebih disarankan.[58][59] Pelaksanaan prosedur-prosedur tersebut terkait dengan tahap disforia gender seseorang, ada atau tidaknya ganngguan pengenalan gender,[50] serta standar perkhidmatan perubatan yang berbeza-beza di setiap daerah.

Penerimaan

Penyantunan

Dalam sesetengah negara di mana penduduknya menutur bahasa yang mempunyai kata ganti diri berbeza mengikut jantina orang dirujuk (seperti bahasa Inggeris yang membezakan antara he dan she berbanding dengan bahasa Melayu yang hanya menggunakan dia sahaja), terdapat panduan praktik kesihatan, pedoman gaya jurnalisme professional, serta kelompok advokasi LGBT menyarankan penggunaan nama dan kata ganti diri yang mengenalpasti seseorang tersebut termasuk semasa orang dirujuk lain gender pada masa lalu kehidupannya.[60][61]

Dalam undang-undang

Prosedur hukum di beberapa daerah mengizinkan pengubahan status gender dan nama untuk mendeskripsikan pengenalan gender dari seorang individu secara tepat. Persyaratan yang dibutuhkan bervariasi dari daerah ke daerah mulai dari diagnosis resmi dari dokter soal transseksualisme ataupun soal gangguan pengenalan gender hingga surat dokter yang menyatakan transisi gender atau juga peranan gender yang berbeza dari seseorang.[12] DSM IV pada tahun 1994 mengubah entri Transsexual (Transseksual) menjadi Gender Identity Disorder (Gangguan Pengenalan Gender). Di banyak tempat, masyarakat transgender tidak dilindungi oleh hukum dari diskirminasi di dalam pekerjaan maupun dalam pemenuhan kebutuhan tempat tinggal.[62] Sebuah laporan bulan Februari 2011 menemukan bahawa 90% orang transgender mengalami diskriminasi pekerjaan dan dengan tahap pengangguran dua kali lebih tinggi daripada angka untuk masyarakat keseluruhan.[63] Lebih dari 50% melaporkan pernah mengalami pelecehan atau penolakan ketika menggunakan kemudahan umum.[63] Masyarakat transgender juga mengalami tahap diskriminasi yang tinggi dalam perkhidmatan kesihatan.[64]

Kementerian Hukum Kanada pada bulan Mei 2016 mengajukan sebuah rancangan revisi Undang-Undang Hak Asasi Manusia Kanada untuk melindungi hak kemerdekaan ekspresi dan pengenalan gender. Rancangan tersebut akan menambahkan klausul pengenalan gender dan variasi gender sebagai alasan suatu diskriminasi. Pelanggar terhadap peraturan ini akan menerima sanksi yang serupa dengan aksi rasisme.[65] Status rancangan UU tersebut kini berada di Senat untuk pembacaan kedua (per 1 Desember 2016).[66]

Beberapa kota dan negeri di Amerika Syarikat memiliki peraturan anti-diskriminasi. Sebagai contoh, pada tahun 2010 di negeri New York, Gubernur David Paterson mengesahkan peraturan pertama yang mencakup perlindungan terhadap orang transgender.[67] Seorang siswi trans dari sebuah sekolah menengah atas di negeri Maine berjaya menuntut pengadilan terhadap daerah sekolahnya setelah ia dilarang oleh pihak sekolah untuk menggunakan toilet wanita.[68] Pada bulan Mei 2016, Departemen Pendidikan dan Departemen Hukum Amerika Syarikat mengeluarkan keputusan yang menghimbau sekolah-sekolah negeri mengizinkan murid-murid transgender menggunakan tandas sesuai pengenalan gender mereka.[69] Setiausaha Pertahanan Amerika Syarikat Chuck Hagel pada Mei 2014 menyatakan bahawa pihak tentera harus mempertimbangkan kembali terhadap pelarangan individu transgender untuk menjadi tentara serta bahawa setiap warga Amerika Syarikat yang memang mampu harus memiliki kesempatan tersebut.[70]

Mahkamah Agung India pada bulan April 2014 menyatakan transgender sebagai "gender ketiga".[71][72][73] Masyarakat transgender di India (seperti Hijra, dsb.) memiliki sejarah panjang di kebudayaan India serta dalam mitologi Hindu.[74] Hakim Agung K. S. Radhakrishnan menyatakan bahawa tidak adanya pengakuan terhadap pengenalan orang transgender/Hijra membuat mereka tidak dilindungi dengan setara oleh hukum dan membuat mereka rentan terhadap kekerasan fizikal maupun seksual serta diskriminasi di pekerjaan, pendidikan, dan perkhidmatan kesihatan. Selain itu, ia menambahkan bahawa orang transgender/Hijra juga menghadapi diskriminasi dalam penggunaan ruang publik serta bahawa dengan demikian, diskriminasi atas dasar orientasi seksual atau pengenalan gender mencederai asas persamaan di depan hukum dan perlindungan yang sama oleh hukum dan melanggar Undang-Undang Dasar India.[75]

Melela

Setiap orang transgender memiliki keinginan yang berbeza-beza mengenai kapan, bagaiaman, atau bahkan apakah ia mau menceritakan soal pengenalan transgendernya kepada keluarga, teman, serta orang lain. Tahap diskriminasi[76] dan kekerasan[77] terhadap masyarakat transgender dapat menjadikan coming out atau melela sebuah hal yang berisiko. Kekhawatiran terhadap adanya repon yang sangat buruk seperti pengusiran oleh orang tua dari rumah untuk remaja transgender misalnya, adalah salah satu sebab mengapa orang transgender terkadang tidak melela kepada keluarga mereka sebelum mereka sudah cukup dewasa.[78]

Kebingungan orang tua serta sikap penolakan terhadap anak dan remaja transgender dapat menyebabkan mereka hanya menyebut hal itu sebagai sebuah "fasa" dan berupaya untuk mengubah anak-anak mereka kembali menjadi "normal".[79]

Lihat juga